Type something and hit enter

By On
Catatan Baihaqi | Berdasarkan hasil monitoring peradilan yang dilakukan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), nilai kerugian akibat kasus indikasi korupsi di Aceh yang masih dalam proses penyidikan oleh Aparat Penegak Hukum mencapai Rp 398 M lebih. Kerugian ini setara dengan 4948 unit rumah dhuafa.

Selain itu dalam hasil monitoring ini, MaTA juga memetakan aktor yang mendominasi sebagai pelaku dalam kasus indikasi korupsi di Aceh. Hasil pemetaan menyebebutkan Eksekutif adalah aktor yang mendominasi, diikuti oleh Pihak Swasta dan Perangkat Desa. Kasus yang disidik pada 2018 juga menyeret 2 perusahaan sebagai pelaku indikasi korupsi.

Jumlah kasus di Aceh yang disidik oleh Aparat pada tahun 2018 meningkat dari tahun 2017. Pada 2018, jumlahnya mencapai 41 kasus sedang pada 2017 hanya 33 kasus. Hal ini menjadi indikator bahwa korupsi semakin masif terjadi di Aceh, baik yang dilakukan oleh oknum Eksekutif, oknum swasta dan oknum lainnya.
Kasus Indikasi Korupsi di Aceh Selama 2018

Untuk melihat lebih detail tentang hasil pemetaan MaTA terhadap kasus-kasus indikasi korupsi yang disidik oleh Kejaksaan, Kepolisian dan KPK di Aceh dapat menyimak slide kasus indikasi korupsi di Aceh selama 2018 yang telah disusun oleh MaTA.


Dalam slide tersebut, MaTA berharap jajaran Peradilan di Aceh harus terbuka dalam proses penanganan kasus tindak pidana korupsi, Kepala Daerah di Aceh agar membenah sistem dan managemen di struktur pemerintahan dan dalam hal pengadaan barang, pemerintah juga harus lebih selektif dalam menentukan rekanan.